kamagra kopen kamagra online kamagra 100 viagra tablets australia levitra online australia cialis daily australia levitra australia kamagra 100mg cialis bijsluiter cialis kopen viagra kopen viagra online
viagra tablets australia levitra online australia viagra générique viagra pour femme cialis générique cialis en ligne levitra générique levitra prix kamagra 100 kamagra 100mg kamagra kopen kamagra online cialis bijsluiter cialis kopen viagra kopen viagra online cialis daily australia levitra australia
Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Berita

Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia
Saat ini, semua orang berlomba-lomba mengekspresikan, memamerkan, dan menunjukkan bahwa dirinya adalah pecinta sejati Indonesia, bahwa dirinya seorang nasionalis, berpikir inklusif; dan menjadi manusia Bhineka Tunggal Ika. Tapi apakah nasionalisme khas Indonesia itu? 
 
Nasionalisme atau faham kebangsaan adalah sikap menyintai dan bersedia berkorban untuk  bangsa dan negara. Arti Nasionalisme  bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia tidak sama dari isi, watak, dan perwujudannya, tergantung dari latar belakang kebudayaan, sejarah, dan karakter setiap bangsa. Sebagaimana pendapat Otto Bauer bahwa bangsa adalah suatu kelompok masyarakat yang memiliki satu persamaan watak, persamaan sifat; dan sifat tersebut memiliki persamaan kesatuan, pengalaman sejarah atau senasib.
 
Bangsa Indonesia memiliki isi, watak, sejarah, dan karakter yang berbeda dengan negara-negara lain. Pemahaman ini perlu untuk ditegaskan dan disosialisasikan oleh kaum Pancasilais agar nasionalisme Indonesia semakin kokoh tegak berdiri di dalam dinamika percaturan dunia.
 
Spirit Paham Nasionalisme
Faham nasionalisme mulai tumbuh membara terutama di negara-negara Asia yang gigih memperjuangkan kemerdekaannya dari cengkeraman kolonialisme. Hal itu dipacu, oleh Ernest Renan, menegaskan merupakan unsur yang dominan dalam kehidupan sosial politik sekelompok manusia, dan mendorong terbentuknya suatu nation (bangsa) guna menyatukan kehendak untuk bersatu (le desire d’entre ensemble). Kesadaran masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, oleh Rupert Emerson, dalam RE, From Empire to Nation. The Rise to Self-Assertion of Asian and African Peoples, (1960), merupakan suatu komunitas di mana orang-orang tersebut bersatu atas dasar elemen-elemen signifikan yang mendalam dari warisan bersama dan mereka merasa mempunyai takdir bersama menuju masa depan. 
 
Tumbuhnya nasionalisme di negara-negara jajahan, ada 2 faktor penyebab, pertama, karena tekanan dari penduduk asli Yang merasakan masyarakat sudah hancur akibat penjajahan, baik dalam politik maupun ekonomi.
 
Kedua, tampilnya elit dan tokoh-tokoh  berpendidikan Barat sebagai pelopor gerakan nasionalisme. misalnya di India ada Mahatma Gandi dan Ali Jinnah (pengacara didikan Inggeris), Jawaharal Nehru (lulusan Oxford University); di Filipina: Queson dan Osmena; di Thailand: Luang Pradit (Pengacara didikan Paris), Pibul Songgram (mempelajari bidang kemiliteran di Prancis); di Vietnam: Ho Chi Minh (hidup lama di Prancis, Uni Soviet), Ngo Dinh Diem (seorang Katholik, lulus sekolah pamong praja Prancis, lama hidup di luar negeri); di Burma: Aung San (mahasiswa fakultas hukum Universitas Ranggon), Ba Maw (Sarjana hukum  di Prancis), U Nu (Universitas Ranggon); di Indonesia: Soekarno (Insinyur ITB), Mohammad Hatta (Universitas Leidden Belanda), dan Sutan Syahrir (didikan Barat).
 
Dalam konteks globalisasi saat ini, ada pertanyaan : apakah paham nasionalisme sudah usang dan tidak relevan lagi? Sudah menjadi sejarah primitif bangsa-bangsa di arus mondial ini? apakah paham nasionalisme tidak diperkukan lagi bagi bangsa Indonesia ?
 
Ciri dan Sifat Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme adalah merupakan salah satu ideologi yang berkembang, di antara yang sudah ada, misalnya ideologi liberalisme/ kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan sebagainya. Ideologi itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang bernegara, sebab suatu negara bangsa tidak bisa dilepaskan dari nilai ideologi. Ideologi itu tentu akan berkaitan atau tidak bisa dilepaskan dari negara, bangsa, politik, sosial, dan dinamika kehidupan manusia. 
 
Suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari ideologi karena ideologi adalah merupakan word view, welstanchauung, pandangan hidup bangsa, prinsip dasar dan sumber nilai suatu bangsa. Ibnu Saud mendirikan negara Saudi Arabiyah dengan ideologi Islam. Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok dengan ideologi San min chiu. Soekarno mendirikan negara republik Indonesia dengan ideologi Pancasila. jadi, suatu negara didirikan oleh prinsip-prinsip dasar negara sebagai sumber nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini menegaskan bahwa eksistensi dan kehidupan suatu bangsa tidak bisa terlepas dari ideologi negaranya.
 
Dalam khasanah intelektual modern, beberapa pakar menyatakan bahwa ideologi dalam situasi dunia global sudah usang dan tidak relevan lagi. Daniel Bell menyatakan bahwa The end of Ideology. Francis Fukuyama menyatakan bahwa ideologi sudah tak relevan lagi karena terhapusnya tapal batas negara satu dengan negara lainnya sehingga ideologi tidak diperlukan lagi.
 
Kita sebagai kaum Pancasilais, tidak usah termakan oleh bius yang melenakan dan menyesatkan tentang  globalisasi. Globalisasi tidak mungkin tanpa nilai dan kepentingan dari kelompok atau organisasi kuat yang mengendalikan. Justru saat ini kita harus melakukan revitalisasi ideologi Pancasila agar menjadi ideologi yang hidup, berkembang, dan mampu menjawab tantangan jaman. Bagaimana dengan Nasionalisme Indonesia ?
 
Nasionalisme Indonesia mempunyai karakter dan sifat sebagai berikut:
Pertama, nasionalisme Indonesia timbul, tumbuh dan berkembang dari sikap perlawanan terhadap kolonialisme, sedangkan kolonialisme adalah Anak kapitalisme. Oleh karena itu nasionalisme Indonesia  berwatak antikapitalisme, antiimperialisme (termasuk imperialisme ekonomi). Perjuangan melawan nasionalisme dipelopori oleh umat Islam sehingga umat Islam dapat disebut sebagai cikal-bakal bangsa Indonesia. Sampai tahun 1920, seorang nasionalis adalah seorang muslim. 
Kedua, bangsa Indonesia adalah bangsa relijius. Ajaran agama (Islam) untuk menentang setiap bentuk kedhaliman dalam bentuk kolonialisme telah mendorong dan memberi spirit kepada rakyat Indonesia yang berjiwa relijius untuk bangkit menentang komonialisme. Aspirasi rakyat Indonesia yang relijius itu telah ditampung ke dalam kesepakatan bangsa tanggal 22 Juni 1945, yang isi pokoknya adalah: 
(1) menjadikan Sila Ketuhanan Yang Maha esa sebagai Sila pertama dari Pancasila. Dengan demikian menjadikan negara Republik Indonesia bukan sebagai negara sekuler, tetapi juga bukan sebagai negara Theokrasi; 
(2) menjadikan negara Republik Indonesia sebagai negara kebersamaan, kolektif, gotong-royong, negara kekeluargaan (Pasal 33 UUD 1945), yang tidak memberikan tempat kepada setiap individualisme yang dapat menjurus kepada setiap bentuk kekuasaan yang merupakan kedhaliman terhadap bangsa sendiri;
(3) dari penderitaan di bawah kekejaman penjajahan dan dari perjuangan melawan kolonialisme, tumbuhlah rasa senasib dan sepenangungan yang selanjutnya menimbulkan persamaan watak. Dari persamaan nasib dan watak ini timbullah rasa kebangsaan. Indonesia sebagai bekas jajahan Belanda merupakan satu kesatuan geopolitik sehingga bekas wilayah Hindia Belanda itulah yang menjadi Tanah airnya bangsa Inonesia.
Nation baru, bangsa Indonesia itu tidak sekedar terikat oleh persamaan nasib di bawah penjajahan belanda. Jadi, tidak terikat hanya oleh masa  yang sudah lalu, tetapi sekaligus juga memandang ke depan. Setelah dengan selamat mengantarkan ke Proklamasi Kemerdekaan (Independent Day). Menurut Ernest Renan dalam buku What is a Nation (1882) yang dikutip oleh W Fridman dalam buku An intro    duction to World Polities (1953) menyatakan: A nation is soul, a spiritual principle (Bangsa ada jiwa, prinsip spiritual). Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan dengan Pembukaan UUD 1945 maka nasionalisme Indonesia telah mencapai titik puncak berupa Trilogi Nasionalisme Indonesia, yaitu Satu Nation: Bangsa Indonesia; Satu  Negara Nasional: Negara republik Indonesia; dan Satu ideologi Negara Nasional: Pancasila.
Jadi, rasa kebangsaan atau nasionalisme Indonesia tidak boleh redup, pudar, dan pupus. Hegel menyatakan letak puncak kebahagian individu terjadi ketika ia menyerahkan apa yang dimilikinya untuk kejayaan negara, termasuk menyerahkan kebebasannya di bawah kontrol negara.
Negara merupakan realitas tertinggi karena negara adalah wujud langkah Tuhan di muka bumi, the march of God in the world, that is what the state is. 
 
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa rasa kebangsaan berasal dari rasa percaya diri, yang menjadi rasa kekeluargaan dan menjadi rasa hidup bersama. Kemudian mewujudkan untuk mempersatukan kepentingan bangsa dengan kepentingan sendiri, nasib bangsa dirasakan sebagai nasibnya sendiri, kehormatan bangsa sebagai kehormatannya sendiri.
 
Soekarno: “Seorang nasionalis adalah perkakasnya Tuhan di muka bumi sehingga akan terdapat keterkaitan dengan nilai-nilai ketuhanan.”
jadi, cinta tanah air akan tidak bermanfaat bila tidak ditujukan untuk mewujudkan persamaan di antara segala golongan.‎
Tag: politik

Related Images

  • Nasionalisme Indonesia

Post Rating

Comments

There are currently no comments, be the first to post one!

Post Comment

Only registered users may post comments.
Kategori
Komisi (156)
Politik (213)
There are gold and diamonds that have to caiso replica watches be earned, and it is rolex replica uk still very interesting to say that the replica watch table that embodies the taste of men has rolex replica watches either gold or diamonds.